Tampilkan postingan dengan label air. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label air. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 30 Agustus 2014
Mengatasi semut rangrang masuk air gula
Salam kroto. Pertanyaan satu demi satu dari sahabat flodesta selalu mas bro usahakan selesaikan apakah itu melalui kolom komentar maupun yang telepon langsung. Tapi kalau belum sempat terjawab yo ojo nesu, harap maklum bro yang berpikir cuma satu orang (kadang ada teman ngasih masukan) mugkin kedepan sedikit demi sedikit masalahmu akan terselesaikan. Kali ini saya coba fokus masalah cara mengatasi semut rangrang masuk air gula. Masih banyak dari kita mengalami masalah semut rangrang masuk kedalam air minuman yang kita sediakan. Bahkan lebih dari satu mati terendam air gula. lihat saja gambar di bawah keberadaan semut rangrang yang ada di tengah kalau gak bisa menepi lagi pasti mati tenggelam.

Penyebab semut rangrang masuk tempat minuman yang kita sediakan di sebabkan semut merasa terganggu dengan penambahan air minum. Mungkin dari sobat flodesta pernah menambah air minum selalu langsung menumpahkan kedalam tempat minuman semut rangrang tanpa menyingkirkan semutnya. Cara seperti itu membuat semut kaget dan akhirnya semut secara brutal masuk ke air dan akhirnya mati. Mungkin bisa saja di sebabkan karena penambahan minuman terlambat.
Tempat minuman juga harus di perhatikan jangan sampai tempat air minum terlalu tinggi ataupun terlalu lebar, sedang sedang saja yang penting kondisi air minum tidak terlalu tinggi menyesuaikan tinggi semut rangrang. Masalah nanti air minum cepat habis itu tidak masalah, semua tergantung daripada koloni semut rangrang yang kita budidayakan, semakin banyak semut semakin banyak minumnya.
Bagaimana cara mengatasi semut rangrang masuk air gula.

Cukup mudah sekali kita hanya memerlukan sedikit polesan kreatifitas. Cara tersebut mungkin tidak harus dipakai tetapi tidak ada salahnya untuk di coba. Semoga semut rangrang tidak lagi masuk minuman air gula. Terimakasih sekali mas bro ucapkan atas kunjungan dan partisipasinya. Ojo lali cendole....ben tambah seger. suwun

Penyebab semut rangrang masuk tempat minuman yang kita sediakan di sebabkan semut merasa terganggu dengan penambahan air minum. Mungkin dari sobat flodesta pernah menambah air minum selalu langsung menumpahkan kedalam tempat minuman semut rangrang tanpa menyingkirkan semutnya. Cara seperti itu membuat semut kaget dan akhirnya semut secara brutal masuk ke air dan akhirnya mati. Mungkin bisa saja di sebabkan karena penambahan minuman terlambat.
Tempat minuman juga harus di perhatikan jangan sampai tempat air minum terlalu tinggi ataupun terlalu lebar, sedang sedang saja yang penting kondisi air minum tidak terlalu tinggi menyesuaikan tinggi semut rangrang. Masalah nanti air minum cepat habis itu tidak masalah, semua tergantung daripada koloni semut rangrang yang kita budidayakan, semakin banyak semut semakin banyak minumnya.
Bagaimana cara mengatasi semut rangrang masuk air gula.
- Cara pertama. Bersihkan dulu semut yang masih ada di dalam tempat minuman dan sekitarnya. Pokoknya harus bersih dari semut rangrang. Caranya semprot pakai air (buih) sampai semut rangrang menjauh dari tempat minuman. Kemudian air gula bisa di masukkan di tempat minuman.
- Cara kedua yaitu dengan menambah tempat minuman baru. Jadi begini sob, kita bisa menambah tempat air gula yang baru dengan catatan tempat minuman lama sedikit mendekati habis dulu baru kita letakkan tempat yang baru. Kemudian tempat minuman lama bisa kita ambil untuk cadangan berikutnya. Kalau masih ada semutya bisa kita bersihkan dulu dengan memakai tangan yang terproteksi sarung tangan dengan di lumuri tepung sedikit. Kita usap perlahan lahan semut yang menempel di tempat minuman semut rangrang lama.
- Cara ketiga mungkin tidak terbayang di pikiran kita yaitu tempat minum di kasih batu batu kecil tentu batu tersebut sudah dibersihkan. Mengapa mas bro mempunyai ide tersebut karena dalam pengamatan semut sebagian kecil ada yang nekat masuk kedalam air gula. Dengan adanya halangan batu maka semut tidak akan masuk kedalam air tetapi tetap masih bisa minum karena adanya celah di antara batu. Lihat saja gambar di bawah ini :

Cukup mudah sekali kita hanya memerlukan sedikit polesan kreatifitas. Cara tersebut mungkin tidak harus dipakai tetapi tidak ada salahnya untuk di coba. Semoga semut rangrang tidak lagi masuk minuman air gula. Terimakasih sekali mas bro ucapkan atas kunjungan dan partisipasinya. Ojo lali cendole....ben tambah seger. suwun
Senin, 17 Maret 2014
Kisah Air Asia Yang Tidak Berperikemanusiaan Meninggalkan Izan Dan Maryam Di Vietnam
Kisah Air Asia Yang Tidak Berperikemanusiaan Meninggalkan Izan Dan Maryam Di Vietnam | Kira-kira jam 8.45 malam tadi, mengikut waktu tempatan di Vietnam, saya terlihat penumpang
pesawat AK 1455, warga Malaysia dihampiri oleh kakitangan lelaki Air Asia. Penerbangan pulang ke Kuala Lumpur dijadualkan berlepas pada jam 9 malam atau 10 malam waktu Malaysia.
Setelah beberapa minit berlalu, perlahan saya kemudian mendekati kumpulan penumpang itu dan mengajukan soalan.
"Ada masalah apa puan?"
"Kakitangan Air Asia ini berkata, anak saya dilarang menaiki pesawat kerana dia demam campak. Kami sekeluarga, dua belas orang, datang ke Ho Chi Minh pada hari Rabu lalu. Kami memang ada membawa bekalan ubat demam, jadi bagi kepada dia kalau dia demam. Dia sudah tidak demam lagi," ujar ibu bayi, Izan Suhaila Mohd Ali, 36 tahun.
"The mother and the baby had to stay here for five days. They cannot board the aircraft," arah kakitangan Vietnam Air Asia berdiri di sebelah saya.
Mereka bimbang sekiranya deman terbabit menjangkiti penumpang lain.
Menurut ahli keluarga Izan, semua beg pakaian mereka telah dimasukkan ke dalam pesawat. Setelah bercuti selama empat hari, kandungan beg bercampur aduk dan barangan keperluan asas Izan dan anaknya, Maryam sukar dipisahkan.
Bayi, Maryam Sofea Mohd Reza, berusia 14 bulan.
Lalu saya terangkan keadaan sebenar kepada kakitangan syarikat penerbangan tambang murah itu.
"So, all twelve had to stay then ," balasnya.
"I understand the situation, law is a law but dont forget, these are human beings not dogs or cats. If she were going to stay here for another five days, she and the baby need cloth to wear. Please refer this matter to your superior again before making further decision," balas saya.
Tidak lama kemudian, muncul seorang penumpang memperkenalkan dirinya sebagai pegawai perubatan ( medical doctor ) datang menghampiri dan menyentuh tubuh Maryam.
"Dia kena chicken pox tetapi sudah tidak demam lagi. Hanya tinggal kesan tompokan hitam sahaja di tubuh," ujar doktor terbabit.
Beberapa minit kemudian tampil pula jururawat wanita tempatan dan pantas menyelitkan jangka suhu di bawah ketiak bayi itu sebanyak dua kali.
"Apabila kita bertanya, berapakah suhu badan Maryam, dia membisu," ujar kakak Izan, Norhamiza.
Saya perhatikan, airmata jernih mula bergenang di bawah dua kelopak mata Izan sambil dia terus mendakap erat anaknya mengalami sindrom down.
Barangkali dia bak tidak mampu mempercayai cabaran didepaninya tatkala itu amat getir. Tambahan pula suami tersayang tidak bersamanya untuk mengharung detik hitam tidak mungkin dapat dilupakan sepanjang hayatnya itu.
Keputusan muktamat telah dibuat oleh kakitangan Air Asia berpenampilan bongkak biarpun tidak dipersetujui ramai penumpang lain.
"The captain doesnt allow this baby on board," ujar pegawai sama kepada kami.
Warga Malaysia berkunjung ke bandaraya Ho Chi Minh untuk membeli-belah. Lazimnya, ramai tidak membawa baki wang tunai tatkala pulang ke Malaysia.
Di saat perpisahan hampir menjenguk, Izan dipeluk erat oleh ahli keluarganya. Mereka juga tidak berupaya menahan deraian airmata tumpah di pipi.
"Ibu ini diarahkan untuk tinggal bersama anaknya selama lima hari lagi di sini. Barangkali dia tidak mempunyaii wang tunai mencukupi. Kalau hati terbuka untuk menghulurkan bantuan, dipersilakan," kata saya spontan kepada semua penumpang sedang beratur untuk menaiki pesawat.
Tidak semena-mena, warga Malaysia pelbagai bangsa, Melayu, Cina dan India, tergesa-gesa mengeluarkan matawang pelbagai jenis dari poket serta beg duit mereka dan pantas menghulurkan kepada Izan.
Hebat sungguh warga Malaysia. Memori sebegitu bakal terus terpahat di minda saya, selagi hayat dikandung badan.
Saya berasa amat kagum.
Biarpun mereka tidak mengenali Izan dan keluarga, fakta itu diketepikan. Saya melihat lelaki Cina bertubuh tinggi menyeluk saku lalu menghulurkan sejumlah wang kepada Izan, berdiri di elevator.
Kakitangan Air Asia bertugas bak tidak sabar untuk membawa Izan, Maryam dan dua anak buahnya keluar daripada kawasan itu.
Sebelum beredar, Izan sempat dipeluk oleh beberapa wanita Melayu tidak pernah dikenalinya. Sebilangan wanita lain, berlari mendapatkan ibu bertugas sebagai kakitangan Hong Leong Bank itu dan mendermakan wang tunai.
Saya berasa amat terharu menyaksikan detik memilukan itu tetapi gagal untuk tidak mengizinkan kejadian itu berlaku.
Untuk rekod, beberapa petugas, lelaki dan perempuan kelihatan berdiri di kaunter Air Asia. Gambar mereka saya rakamkan. Siapapun sekali mereka, kumpulan itu dilihat mewakili syarikat penerbangan terbabit.
Andai kata Ketua Pegawai Eksekutif Kumpulan Air Asia, Tan Sri Tony Fernandes tiba-tiba berkebetulan muncul di lokasi itu, pasti saya tidak segan untuk merayu ...
"Tan Sri, tolong hulurkanlah sedikit bantuan. Mungkin kakitangan Air Asia boleh mencarikan hotel untuk mereka menginap kerana Vietnam, negara asing bagi mereka. Lagipun kini hampir jam 10 malam. Pengguna perkhidmatan syarikat Tan Sri itu juga BUKAN orang kaya dan ternama seperti Tan Sri. Apapun, hakikatnya, Izan dan anaknya adalah pelanggan Air Asia dan mereka telah membayar tambang untuk pulang. Jika penumpang tidak mengenali mereka, sudi membantu, inikan pula Tan Sri, individu tersohor di mata rakyat Malaysia"
Malangnya saya tidak berpeluang bersemuka dan meluahkan rayuan itu kepada Tony tatkala beliau diperlukan.
Saya bukan Richard Branson and I dont wear skirt.

Lupakan Tony tetapi saya berharap selepas membaca entri ini, beliau dan kakitangan Air Asia akan mengambil tindakan segera menangani kesengaraaan bakal ditempuh penumpang malang pesawat Air Asia terbabit.
Tony, just like what I have told your staff in Vietnam, Izan dan Maryam are humans.
Sekitar jam 9.30 malam, kami semua hanya mampu menjadi penonton ketika ibu dan anak itu diarahkan keluar dari pintu 18, lapangan terbang.
Pesawat AK 1455 terbang pada kira-kira jam 10 malam waktu Vietnam, terlewat kira-kira sejam berbanding masa sebenar. Lebih MENAKJUBKAN, tiada sebarang permohonan maaf diumumkan kepada penumpang berikutan kelewatan berlaku.
Sebaik menaiki pesawat, saya menceritakan butiran kejadian kepada ketua pramugari, Kasturi, sedang berdiri berhampiran pintu utama pesawat. Melihat reaksi wajahnya gadis berpakaian serba merah itu, saya dapat menjangkakan kes itu terlalu asing bagi dirinya.
"Tolong maklumkan kepada kapten dan ground staff Air Asia di LCCT supaya Izan dapat dibantu," pinta saya.
Setelah menjamah nasi lemak tidak berapa enak dipesan, saya sekali lagi kembali menghampiri Kasturi.
"Saya dimaklumkan, ibu dan anak itu telah dibawa ke hospital oleh ground staff kita," kata gadis tinggi lampai itu.
"Adakah kapten mengetahui kejadian itu? Kerana ground staff tadi memaklumkan saya dan keluarga Izan, kapten tidak membenarkan Mariam menaiki pesawat," soal saya.
"Kapten hanya tahu sebentar tadi setelah saya maklumkan," akui Kasturi.
Kapten bertugas, Ariffin Bakar.
Sebenarnya, tiada individu bijak gemar bertindak melanggar undang-undang. Jika kehadiran Maryam di dalam pesawat ternyata membahayakan nyawa semua penumpang, molek jika bayi itu dirawat dengan kadar segera di hospital di Ho Chi Minh terlebih dahulu.
Sewaktu tiba di LCCT, saya mendapatkan berita terkini melalui Norhamiza dan ahli keluarga lain termasuk ibunya, Zaiton Baharom, 71 tahun.
"Memang kami terekjut," komen Zaiton terkilan.
"Tadi sewaktu saya hubungi melalui telefon, Izan berkata, kakitangan Air Asia itu menghantar mereka sampai ke stesyen teksi dan berkata, I am sorry. Izan kemudian terpaksa pergi membelikan baju Mariam dan dua pasang baju dia sendiri kemudian pergi balik ke May Flower Hotel, tempat kami menginap sebelum ini. Bayarannya, USD60 semalam. Hujung minggu, banyak hotel penuh dan terpaksa tinggal di situ. Ini trip pertama Izan ke Vietnam," tambah Norhamiza.
"Jadi tidak benarlah kenyataan mereka kononnya Maryam telah dihantar ke hospital oleh kakitangan Air Asia bertugas di lapangan terbang?," tanya saya kepada ahli perniagaan itu.
"Tidak," balasnya ringkas.
"Apakah pesanan puan kepada Air Asia?," soal saya.
"Periksa secara teliti terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Jika Maryam membawa penyakit, sudah pasti kami antara individu paling awal dijangkiti kerana kami bercampur-gaul dengan dia. Saya sendiri tidur sebilik dengan Maryam," luah Norhamiza, kecewa.
Apakah bakal berlaku kepada Izan dan Maryam? Adakah mereka mempunyai wang mencukupi untuk Maryam melakukan pemeriksaan darah di hospital di Vietnam? Wajarkah Air Asia lepas tangan dalam kes ini?
Perkembangan kes ini bakal saya kongsikan bersama semua, kelak.
SILA SEBARKAN KANDUNGAN ENTRI INI DI MEDIA SOSIAL
Dipetik Dari MazidulAkmal
Lagi berita dan cerita berkaitan dari sumber lain MazidulAkmal, Utusan, AgendaDaily
Label:
air,
asia,
berperikemanusiaan,
dan,
di,
izan,
kisah,
maryam,
meninggalkan,
tidak,
vietnam,
yang
Langganan:
Postingan (Atom)